Saham IHSG melonjak lebih dari 1% di tengah rumor kenaikan dan suku bunga jangka panjang

Uncategorized69 Dilihat


Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menguat lebih dari 1% pada perdagangan sesi I Rabu (15 Mei 2024), membalikkan posisinya dibandingkan perdagangan beberapa hari sebelumnya yang cenderung fluktuatif.

Hingga pukul 10.14 WIB, saham IHSG menguat 1,12% ke 7.163,33. IHSG pun berhasil membalikkan pergerakannya kembali ke level psikologis 7100.

Nilai perdagangan indeks pada sesi hari ini mencapai sekitar Rp4,4 triliun dengan volume transaksi 7,1 miliar lembar saham, dengan transaksi yang diselesaikan sebanyak 399.720 kali.

IHSG berhasil menguat tajam membalikkan kondisi beberapa hari sebelumnya yang cenderung fluktuatif bahkan lesu.

Kenaikan indeks IHSG terjadi meski sentimen pasar global masih kurang menggembirakan pasca terbitnya data inflasi produsen (indeks harga produsen/PPI) Laporan bank sentral Amerika Serikat (AS) dan AS (Federal Reserve/FRS). menunjukkan bahwa mereka akan menerapkan kebijakan suku bunga tinggi untuk waktu yang lama atau lebih tinggi lagi.

Semalam, Indeks Harga Produsen AS bulan April 2024 naik lebih dari perkiraan, didorong oleh kenaikan tajam pada biaya jasa dan barang, yang mengindikasikan inflasi akan tetap tinggi pada awal kuartal kedua tahun 2024.

Indeks Harga Produsen Negeri Paman Sam naik 0,5% pada bulan April bulan lalu setelah turun 0,1% pada bulan Maret tahun lalu, menurut Biro Statistik Tenaga Kerja AS.

Setiap tahun (tahun demi tahun/YoY), PPIAS naik 2,2% di bulan April dibandingkan kenaikan sebelumnya sebesar 1,8% di bulan Maret 2024.

Para ekonom yang melakukan surveiReutersIndeks harga konsumen AS diperkirakan naik 0,3%. Secara tahunan, indeks harga produsen meningkat sebesar 2,2%, lebih tinggi 1,8% dibandingkan bulan Maret.

Baca Juga  Asing setuju beli saham bank besar RI seiring penguatan IHSG

Setelah PPI, AS akan mengumumkan data inflasi konsumen (Indeks Harga Konsumen/CPI) Malam ini, April 2024 waktu Indonesia. Sebagai referensi, CPIAS akan mencapai 3,5% (secara tahunan) pada Maret 2024. Jika inflasi masih tinggi, maka perlu waktu lebih lama untuk menurunkan suku bunga.

Pasar keuangan masih memperkirakan bank sentral AS (Federal Reserve/Fed) akan memulai siklus pelonggaran pada September 2024, meski beberapa ekonom meyakini penurunan suku bunga pertama bisa dilakukan pada Juli.

Sebelumnya, Ketua Fed Jerome Powell menegaskan kembali bahwa inflasi AS turun lebih lambat dari perkiraannya. Karena alasan ini, The Fed kemungkinan besar akan melakukannya

“Kami tidak mengira ini akan mudah. Namun, inflasi ternyata lebih tinggi dari perkiraan kami. Hal ini memaksa kita untuk bersabar dan membiarkan kebijakan yang dibatasi berhasil,” kata Powell dalam pidatonya di acara Asosiasi Bankir Asing di Amsterdam. Belanda.

Meski demikian, Powell juga menegaskan bahwa The Fed tidak akan menaikkan suku bunga lagi pada tahun ini.

The Fed menaikkan suku bunga sebesar 525 basis poin (bps) sejak Maret 2022 hingga Juli 2023. Mereka kemudian mempertahankan suku bunga di level 5,25-5,50% pada September, November, Desember 2023, Januari 2024, Maret 2024, dan Mei 2024.

RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

Artikel selanjutnya

Cetak rekor ATH baru! Saham IHSG melonjak hampir 1% menjadi 7.348,52.

(bhd/bhd)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *