Pasar menunggu pengumuman suku bunga BI. Bagaimana nasib rupee?

Uncategorized50 Dilihat

Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah kembali melemah setelah Bank Indonesia (BI) merilis data neraca pembayaran Indonesia (NPI) yang defisit.

Pergerakan rupee terhadap dolar AS masih fluktuatif karena pelaku pasar kini mengalihkan perhatiannya menunggu keputusan BI pada rapat Dewan Gubernur (RDG) pekan ini.

Rupiah ditutup melemah 0,13% pada Senin (20 Mei 2024) ke Rp 15.970 per dolar AS, menurut data Refinitiv. Pelemahan rupiah serupa dengan depresiasi yang terjadi pada akhir pekan lalu, Jumat (17/5/2024), yakni sebesar 0,19%.

Pelemahan rupiah kemarin terjadi setelah BI merilis data neraca pembayaran Indonesia (NPI), termasuk transaksi berjalan, dan kedua data tersebut terlihat berada di teritori negatif.

BI melaporkan NPO mengalami defisit sebesar US$6 miliar pada kuartal I 2024. Begitu pula dengan defisit transaksi berjalan sebesar US$2,2 miliar atau 0,6% dari produk domestik bruto (PDB).

Operasi modal dan pembiayaan mencatat defisit sebesar $2,3 miliar pada kuartal pertama tahun 2024 setelah mencatat surplus sebesar $11,1 miliar pada kuartal sebelumnya.

Hal ini dipengaruhi oleh menurunnya investasi portofolio, terutama disebabkan oleh keluarnya modal asing ke dalam surat utang dalam negeri di tengah meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan global.

Defisit yang terus meningkat terutama pada transaksi berjalan selama empat kuartal berturut-turut menjadi perhatian utama pelaku pasar karena nilai tukar rupee akan terus tertekan sehingga BI akan terus menaikkan suku bunga.

Jika suku bunga naik, aktivitas ekonomi mungkin melambat. Impor barang diharapkan dapat menurun dan mengurangi beban transaksi yang sedang berjalan.

BI selanjutnya akan menggelar rapat Dewan Gubernur (RDG) pada hari ini (21/5/2024) dan besok (22/5/2024). Hal ini akan membuat para pelaku pasar khawatir, salah satunya adalah suku bunga acuan.

Baca Juga  Terbaru KING THE LAND, Ini Drama Korea Viral di Media Sosial Sampai Ada yang Tuai Kontroversi

Sebelumnya pada April 2024, BI mengejutkan pasar dengan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6,25%.

“Rapat Dewan Gubernur memutuskan untuk menaikkan BI rate,” kata Gubernur BI Perry Vargio dalam konferensi pers, Rabu (24 April 2024).

BI mengatakan alasan kenaikan suku bunga adalah untuk meningkatkan stabilitas nilai tukar rupee terhadap kemungkinan memburuknya risiko global, dan sebagai langkah proaktif dan berwawasan ke depan untuk memastikan inflasi mencapai target inflasi sebesar 2,5 plus atau minus 1% pada tahun 2020. 2024. -2025 sesuai dengan kebijakan stabilitas.

Diketahui, rupee melemah tajam belakangan ini. Dolar AS sempat menyentuh Rp 16.200.

Sementara itu, pejabat Federal Reserve di luar negeri belum siap untuk mengatakan bahwa inflasi bergerak mendekati target bank sentral sebesar 2% setelah data minggu lalu menunjukkan tekanan pada pelonggaran harga konsumen pada bulan April dan beberapa pihak pada hari Senin menyerukan kelanjutan kebijakan hati-hati.

Teknis Rupee

Secara teknis, secara grafik per jam, hal ini menunjukkan pelemahan rupee sepertinya akan menguji resistensi jangka pendek untuk menutup gap setelah rupee menguat tajam pada 15 Mei 2024. Resistensinya berada di Rp 16.025 per dolar AS.

Meskipun kesenjangan tersebut tidak selalu bisa dihilangkan, namun tetap perlu diantisipasi. Sedangkan untuk posisi support, jika penguatan terus berlanjut, potensi menguji Rp 15.920/USD yang ditarik dari garis lurus berdasarkan i candle bagian bawah.hari ini 17 Mei 2024

Foto: Tradingview
Pergerakan rupee terhadap dolar AS

RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

Artikel selanjutnya

Banyak berita terkini untuk AS, dolar masih tertahan di Rp 16.000

(tsn/tsn)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *