Kisah sukses Haji Isam: dari tukang ojek hingga pemilik gurita bisnis

Uncategorized98 Dilihat


Jakarta, CNBC Indonesia – Jalan seseorang menuju kesuksesan sangatlah menarik dan dapat menjadi sumber inspirasi. Salah satunya adalah konglomerat Andi Syamsuddin Arsyad atau lebih dikenal Haji Isam. Bagi warga Kalimantan Selatan, ia merupakan salah satu orang terkaya yang menjadi pusat perhatian dan menyandang julukan Crazy Rich Batulitsin.

Seperti banyak cerita dari zero to hero, Haji Isam pun memulai bisnisnya dari nol dan mampu membangun bisnis gurita yang dikenal banyak orang. Ia bahkan bekerja sebagai tukang ojek dan operator alat berat.

Meski Haji Isam telah meraih kesuksesan di Kalimantan Selatan, namun ia bukanlah orang asli daerah tersebut. Andi Syamsuddin Arsyad bin Andi Arsyad sendiri lahir di Batulitsin, Kalimantan Selatan, pada tahun 1977.

Keluarga Haji Isam berasal dari sebuah desa di Bon, Sulawesi Selatan, sebuah daerah yang merupakan wilayah etnis Bugi. Andi Arsiad alias Tempo (4/8/2018) adalah seorang pedagang tembakau yang merantau ke Kalimantan Selatan. Haji Isam memulai kesuksesannya dari bawah, bekerja sebagai sopir truk kayu.

Kemudian Haji Isam muda bertemu dengan seorang penambang lokal bernama Yohan Maulana. Sejak tahun 2001, ia mengikuti Yohan Maulana dan belajar mengelola industri pertambangan. Setelah belajar bersama Johan selama dua tahun, Haji Isam muda mengambil langkah penting dalam bisnis batu bara yang mengubah hidupnya.

“Tahun 2003, Pak Yohan meminjami saya modal untuk menyewa alat-alat berat pertambangan,” aku Haji Isam saat diwawancarai Tempo.

Oleh karena itu, ia pernah menjadi kontraktor eksekutif PT Arutmin Indonesia yang merupakan bagian dari PT Bumi Resources Tbk milik keluarga Bakri dengan merek CV Jhonlin Baratama. Setelah ekspansi bisnis, CV diubah menjadi PT Jhonlin Baratama. Kini PT Jhonlin memproduksi batu bara hingga 400 ribu ton per bulan. Omzetnya sekitar Rp 40 miliar per bulan.

Baca Juga  9 tips menjadi kaya dari “ayah kaya” Robert Kiyosaki

Kemudian perusahaan Haji Isam berkembang. Bisnis penerbangannya dikelola oleh Jhonlin Air Transport yang memiliki dua Fokker dan dua helikopter.

Di sektor pelayaran, perusahaan berbendera Jhonlin Marine ini menguasai armada 16 kapal tongkang batubara. Di bidang agrobisnis, ada perusahaan bernama Jonlin Agromandiri yang mengelola perkebunan kelapa sawit. Ia bahkan memiliki pabrik biodiesel senilai Rp 2 triliun yang dijalankan oleh Jonlin Agri Raya.

Haji Isam punya hubungan bisnis dengan Ketua MPR Bambang Soesatyo alias Bamsoet. “Saya berteman dengan Haji Isam dan sudah merintis bersama sejak tahun 2003,” kata Bamsoet, seperti dikutip Tempo (22/1/2018). Mereka bermitra dengan PT Kodeco Timber, pemilik hak hutan tanaman industri (HTI) dan hak pengusahaan hutan (HPH).

Koran Tempo memberitakan, Kodeco melaporkan lubang yang dibuat oleh bos batu bara lain, yang dianggap ilegal oleh pihak berwenang, dan Jonlin kemudian memasuki area penambangan.

Usaha Haji Isam terus berkembang bahkan ia merambah bisnis gula beberapa waktu lalu. Presiden Joko Widodo (Jokowi) bahkan sempat mengunjungi lokasi panen tebu dan membuka Pabrik Gula Haji Isama di Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, pada akhir tahun 2020 (22/10/2020).

Jokowi mengatakan, investasi pembukaan perkebunan tebu dan pabrik gula terintegrasi merupakan sebuah keberanian yang patut diapresiasi.

Pabrik yang memiliki kapasitas produksi relatif besar di Indonesia ini dioperasikan oleh PT Prima Alam Gemilang yang merupakan anak perusahaan Jhonlin Group milik Haji Isam.

“Ini adalah keberanian. Keberanian membuka investasi dan usaha di tempat ini. Ini adalah sesuatu yang harus kita hargai dan hargai. Semuanya dimulai tiga tahun lalu dan sekarang sudah selesai dan berproduksi,” kata Jokowi.

Kini, tak hanya nama Haji Isam yang kerap mencuat, putranya yang masih kecil pun kerap menjadi headline karena mampu menjadi komisaris meski usianya baru 20 tahun.

Baca Juga  Dolar AS tembus Rp 15.900, begitulah suasana di kantor bursa Jakarta

[Gambas:Video CNBC]

Artikel selanjutnya

Harta anak Haji Isam senilai Rp 4,55 triliun hilang. Bagaimana ini bisa terjadi?

(fsd/fsd)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *