Kisah runtuhnya dinasti bisnis Salimov setelah 3 dekade sukses

Uncategorized376 Dilihat


Jakarta, CNBC Indonesia – Konglomerat Sudono Salim atau Liem Sioe Liong sudah melejit dalam dunia bisnis. Banyak orang yang mengalami naik turunnya dunia usaha, karena ia termasuk salah satu pengusaha yang berhasil terhindar dari krisis tahun 1998.

Seperti diketahui, Sudono Salim memiliki hubungan dekat dengan Soeharto sejak masa jabatannya sebagai kolonel.

Pada masa awal berdirinya Indonesia sebagai sebuah negara, Sudono Salim dikenal sebagai pengusaha yang bergerak di bidang impor cengkeh dan logistik tentara. Jaringan bisnisnya yang luas membuat Kolonel Soeharto ingin bekerja sama dengannya.

Perkenalan itu terjadi setelah sepupu Soeharto, Soulardi, menjadi perantara pertemuan mereka. Salim kemudian menjadi pemasok logistik pasukan Kolonel Soeharto pada masa Perang Kemerdekaan (1945–1949).

“Setelah Soeharto mengambil alih kekuasaan di Indonesia pada pertengahan tahun 1960an dan menjadi presiden, ia didukung oleh sekelompok teman bisnis, yang terbesar dan terkuat di antaranya adalah Liem Sio Liong,” tulis Richard Borsuk dan Nancy Chng dalam Liem Sio Liong dan Salim.” Grup (2016), dikutip Minggu (14/1/2024).

Keduanya telah memelihara hubungan yang saling menguntungkan selama tiga dekade. Soeharto melindungi Liem dan menjamin kelancaran bisnisnya. Liem melalui kerajaan bisnisnya Salim Group mentransfer dana kepada Soeharto, keluarga, dan teman-teman lainnya.

Hasilnya, kedua belah pihak meraih kesuksesan dengan caranya masing-masing. Salim diakui sebagai orang terkaya di Indonesia. Sementara itu, Soeharto juga sukses mempertahankan kekuasaan di Tanah Air. Namun ketenaran keduanya tiba-tiba hancur hanya dalam hitungan hari pada Mei 1998.

Salim berhasil membangun tiga kerajaan bisnis di tiga sektor, antara lain perbankan (Bank of Central Asia, BCA), konstruksi (Indocement), dan pengolahan makanan (Bogasari dan Indofood). Namun semua itu lambat laun runtuh ketika krisis terjadi pada tahun 1998. BCAlah yang paling menderita.

Sejarawan M. K. Ricklefs, dalam bukunya Sejarah Indonesia Modern (2009), melaporkan bahwa pada masa krisis, nasabah menarik dana secara massal dan besar-besaran. Ratusan orang rela antri berjam-jam demi menghabiskan seluruh tabungannya. Kondisi ini membuat BCA yang sudah tidak lagi dipercaya masyarakat terancam bangkrut. Rangkaian krisis ini mencapai puncaknya pada bulan Mei 1998.

Baca Juga  Dengan merebaknya pencalonan Kaesang di Pilkada DKI, saham PMMP melonjak 9,66%.

Kedekatannya dengan Soeharto rupanya menjadi petaka bagi Salim saat itu. Pukulan telak bagi Salim adalah munculnya sentimen anti-Suharto akibat eskalasi krisis ekonomi hingga kekacauan politik. Orang-orang yang mengetahui kedekatan keduanya menjadikan Salim sebagai sasaran. Hal ini terjadi setelah demonstrasi meningkat menjadi kerusuhan ras pada 13 Mei 1998.

Pada hari itu terjadi kerusuhan, penjarahan dan pembakaran rumah, bangunan komersial dan banyak kendaraan terjadi di Jakarta dan sekitarnya (Kompas, 14 Mei 1998). Aksi ini dilakukan oleh massa yang terprovokasi. Mereka menyerang bangunan dan kendaraan milik orang Tionghoa, bahkan orang Tionghoa sendiri.

Gemma Purdy, dalam Anti-Chinese Violence in Indonesia 1996–1999 (2013), menjelaskan bahwa meningkatnya sentimen rasial terhadap orang Tionghoa dipicu oleh stereotip bahwa mereka harus dibenci hanya karena mereka kaya dan dekat dengan penguasa Soeharto. Dan tokoh sentral dari gambaran ini adalah Sudono Salim.

“Perusahaan para cukong dan keluarga Soeharto menjadi sasaran utama pembakaran dan perampokan. Sasaran utama serangan itu adalah Bank Asia Tengah milik Liem Sioe Lyong,” tulis Ricklefs.

Richard Borsuk dan Nancy Chng dalam Liem Sioe Liong and Salim’s Group (2016) menceritakan, meski menjadi sasaran mafia, Sudono Salim, istri dan beberapa anaknya berada di Amerika Serikat menemani Salim yang sedang menjalani operasi mata. Di Jakarta hanya ada Anthony Salim yang bekerja di Wisma Indocement, Jl. Sudirman.

Saat itu, Anthony belum berani pulang ke rumah ayahnya di kawasan Roxy. Sebab, kerusuhan juga menyasar pemukiman warga di China. Ada kekhawatiran jika Salim tetap tinggal di rumahnya, dia bisa dibunuh.

Lalu prediksi itu menjadi kenyataan. Pada pagi hari tanggal 14 Mei, Anthony menerima kabar bahwa rumah ayahnya telah dikunjungi oleh sekelompok pemuda berwajah mengancam yang bersenjatakan kaleng bahan bakar dan peralatan. Mereka ingin memasuki rumah mewah Liem.

Anthony tidak bergerak. Ia langsung memerintahkan penjaga untuk membiarkan massa masuk dan menghancurkan rumahnya daripada memblokirnya dan menumpahkan darah.

Baca Juga  Jatuhnya IHSG tidak berpengaruh, saham-saham tersebut banyak diborong asing

“Dalam sekejap, semua mobil yang ada di garasi terbakar, termasuk seluruh rumah. Mereka membakar furnitur, membongkar foto, dan menggeledah kamar. Bahkan mereka menuliskan kata-kata yang tidak pantas di rumah tersebut,” kata Anthony kepada Richard Borsuk dan Nancy Chng.

Beberapa menit kemudian, asap hitam dengan cepat mengepul dari rumah Salim. Di jalan, foto Salim dilempari batu dan dibakar massa yang marah. (Kompas, 15 Mei 1998).

Melihat situasi Jakarta yang sangat serius, Anthony langsung berpikir untuk meninggalkan kantornya. Dia khawatir kantornya akan mengalami nasib yang sama seperti rumahnya. Ia kemudian berangkat ke Bandara Halim untuk terbang ke Singapura dengan jet pribadi. Dari situlah Anthony mengawasi perkembangan bisnisnya setelah masa-masa sulit tersebut.

Setelah kerusuhan mereda dan Soeharto akhirnya mengundurkan diri, BCA mengalami kerugian paling besar. Tercatat 122 cabang rusak, diantaranya 17 kantor terbakar habis, 26 cabang dirusak dan dijarah, serta 75 cabang rusak namun tidak dijarah. 150 ATM kemudian dirusak dan diambil uang tunai sehingga menimbulkan kerugian sebesar Rp3 miliar.

Selain BCA, Indofood juga diserang. Pabriknya di Solo dijarah dan dibakar hingga menimbulkan kerugian Rp 42 miliar. Sebuah pusat distribusi di Tangerang juga hancur akibat penjarahan. Hanya Indocement yang masih bisa bertahan.

Meski demikian, kerajaan bisnis perbankan mendapat pukulan telak. Seminggu setelah Soeharto mengundurkan diri pada tanggal 21 Mei 1998, BCA jatuh ke tangan pemerintah karena kondisi keuangannya semakin memprihatinkan dan tidak dapat diperbaiki lagi. Pemerintah melalui Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) resmi mengubah BCA menjadi BTO (bank pengambilalihan). Penyerapan ini bertujuan agar BCA tidak terpuruk terlalu dalam.

Sejak saat itu, BCA tidak lagi dimiliki oleh keluarga Salim. Richard Borsuk dan Nancy Chng mengatakan Salim hanya mengandalkan Indofood untuk menghidupkan kembali mesin kekayaannya.

Kini, 25 tahun setelah kejadian memilukan itu, bisnis keluarga Salimov mulai berkembang. Bisnis Indofood tidak hanya mencakup sektor minyak dan gas, konstruksi, dan perbankan.

[Gambas:Video CNBC]

(luar biasa/luar biasa)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *