IHSG kembali ke zona merah karena lima saham berkapitalisasi besar terpuruk

Uncategorized54 Dilihat


Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan pada sesi I perdagangan Selasa (14/5/2024), setelah aku punya waktu memantul memasuki zona hijau pada pertengahan sesi I hari ini.

Hingga pukul 12:00 WIB, indeks IHSG melemah 0,23% ke 7.082,97. IHSG kembali ke level psikologis 7000 pada akhir sesi I hari ini, setelah beberapa saat memantul ke tingkat psikologis 7100.

Nilai perdagangan indeks pada akhir perdagangan sesi I hari ini mencapai sekitar Rp 6,2 triliun, termasuk 8,7 miliar saham yang berpindah tangan sebanyak 638.510 kali.

Secara sektoral, sektor industri mempunyai bobot terbesar terhadap IHSG pada sesi hari ini, yakni mencapai 1,7%.

Selain itu, beberapa saham juga mengalami tekanan (tertinggal) IHSG pada pertemuan I hari ini. Berikut daftarnya.

PT Astra International Tbk (ASII) menjadi saham papan atas IHSG pada sesi hari ini dengan raihan 20,6 poin indeks. Sekadar informasi, hari ini adalah periodenya mantan tanggal Dividen Tunai ASII di Pasar Reguler dan Pasar Negosiasi.

Keriangan IHSG masih cenderung tinggi karena investor masih cenderung tunggu dan lihat menunggu rilis data penting perekonomian global dan domestik pada minggu ini.

Pertama, investor menantikan rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) periode April 2024. data inflasi produsen (indeks harga produsen/PPI) akan dirilis terlebih dahulu. Data Indeks Harga Produsen AS diperkirakan naik 0,3%. Sementara itu, indeks harga produsen inti, tidak termasuk biaya energi dan pangan, diperkirakan naik 0,2%, sama seperti pada Maret 2024.

Indeks harga produsen tahunan diperkirakan sebesar 2,2% pada bulan April, meningkat dari 2,1% pada bulan Maret. Sementara itu, indeks harga produsen inti diperkirakan berdasarkan konsensus sebesar 2,4% YoY, setara dengan periode Maret.

Baca Juga  Emiten Aguan PANI mencaplok tanah senilai Rp 158,4 miliar di Tangerang

Sebagai referensi, indeks harga produsen bulan Maret mencapai 2,1% (tahun demi tahun/y/y) pada bulan Maret 2024 dan 0,2% (dari bulan ke bulan/mtm) pada bulan Maret 2024.

Data indeks harga produsen dirilis hanya sehari sebelum publikasi data inflasi konsumen (Indeks Harga Konsumen/CPI) AS. Jika PPI kembali menguat atau melampaui ekspektasi pasar, hal ini akan menjadi berita buruk karena inflasi kemungkinan akan tetap kuat.

Para ekonom yang melakukan survei Reuters Indeks harga konsumen inti diperkirakan naik 0,3% bulan ke bulan, naik dari 0,4% di bulan Maret, dan kenaikan tahunan sebesar 3,6%, naik dari 3,8%.

Investor fokus pada inflasi karena mereka mempertimbangkan seberapa cepat Federal Reserve (Fed) AS dapat menurunkan suku bunga.

Sementara itu di dalam negeri Bank Indonesia (BI) dijadwalkan merilis data penjualan ritel Maret 2024 hari ini.

Berdasarkan konsensus yang dikutip Ekonomi perdagangan, pertumbuhan penjualan ritel diperkirakan hanya mencapai 2,1%. Angka tersebut menandai penurunan signifikan dibandingkan pertumbuhan Februari yang mencapai 6,4%.

Penurunan tersebut diperkirakan seiring tren penurunan penjualan setelah beberapa bulan sebelumnya didorong oleh periode sentimen positif.

Namun, terlepas dari perkiraan tersebut, BI juga yakin penjualan ritel Indonesia akan tetap kuat di bulan Maret. Hal ini tercermin dari indeks penjualan riil (IPR) Maret 2024 yang naik 3,5% (YoY) menjadi 222,8.

Data penjualan ritel yang lebih baik dari ekspektasi pasar diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan investor terhadap prospek pertumbuhan perusahaan terkait seperti sektor ritel.

RISET CNBC INDONESIA

[email protected]

Penolakan tanggung jawab: Artikel ini merupakan produk jurnalistik berdasarkan pandangan Riset CNBC Indonesia. Analisis ini tidak dimaksudkan untuk mendorong pembaca membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada di tangan pembaca dan kami tidak bertanggung jawab atas segala kerugian atau keuntungan yang timbul akibat keputusan ini.

[Gambas:Video CNBC]

Baca Juga  BPR diperkirakan akan menyumbangkan modal inti sebesar Rp 6 miliar pada akhir tahun 2024

Artikel selanjutnya

IHSG kembali lesu setelah mencetak rekor, saham inilah yang patut disalahkan

(bhd/bhd)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *