Guru di Takengon Dibekali Skill Komunikasi Dari UMSU

Uncategorized288 Dilihat

Takengon, Para guru dan kepala sekolah di Takengon, Kamis (20/7/23), mendapat kuliah umum tentang komunikasi dalam pendidikan. Tujuannya agar tenaga pendidik dan sekolah lebih terbuka dan adaptif menghadapi karakter siswa dan dunia generasi digital (digital native).

Kuliah umum bertajuk: Komunikasi dan Pembangunan Pendidikan, diisi oleh pakar komunikasi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Assoc.Prof. Dr. Rudianto, M.Si didampingi Dr. Yan Hendra, M.Si, Dr. Muhammad Thariq, M.I.Kom dan Dr. Ribut Priadi, M.I.Kom.

Sementara, acara yang dilaksanakan di aula kantor dinas di Pegasing, Takengon itu, dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Drs. Uswatuddin, M.AP diwakili oleh Sekretaris Dinas Muslim Hakim My, S.Pd., M.I.Kom serta diikuti seratusan guru dan kepala sekolah SD/SMP yang tergabung dalam MKKS.

Sekretaris Dinas Dikbud Aceh Tengah Muslim Hakim My, S.Pd., M.I.Kom mengatakan, dinas telah merancang untuk melaksanakan kuliah umum yang menghadirkan akademisi mumpuni di bidang komunikasi dan pendidikan. Selain itu, lanjutnya, kuliah umum terselenggara berkat kerjasama yang terjalin lama antara Pemkab Aceh Tengah dengan UMSU dalam bidang pengembangan sumber daya manusia

“Alhamdulillah kerjasama ditindaklanjuti dalam bentuk kegiatan kuliah umum ini untuk menjawab tantangan dan tuntutan SDM guru yang semakin kompleks di bidang komunikasi dan pendidikan di era digital. Kami ucapkan terimakasih kepada Rektor UMSU yang telah mengutus dosen dan pakar komunikasi untuk memberikan kuliah umum di kota sejuk Takengon,” ujar Muslim saat membuka acara seraya menambahkan mudah-mudahan para guru meraih ilmu dan skill komunikasi sehingga bisa mengatasi kesenjangan (gap) dan mengantisipasi potensi konflik antara pendidik dan peserta didik di sekolah.

Pada kuliah umum, Assoc. Prof. Dr. Rudianto mengatakan gap terjadi karena pengaruh teknologi dan internet. Siswa sejak lahir sudah ada internet dan teknologi digital, sementara guru dan orangtua golongan generasi yang lahir belum ada internet. “Di situlah terjadi gap antara guru dan siswa, maka pendidik harus adaptif,” ujarnya.
Dosen Magister Ilmu Komunikasi itu, mengatakan kunci adaptif adalah guru harus terampil berkomunikasi guna membangun relasi yang baik dengan peserta didik di dalam kelas. Dengan komunikasi membuat pribadi menjadi terbuka yang pada akhirnya membentuk siswa yang kreatif pula.

Baca Juga  Pemilu putaran pertama sebelum The Fed memecahkan masalah: bisakah pasar keuangan Indonesia berkembang pesat?

Assoc. Prof. Dr. Rudianto yang juga Wakil Rektor III UMSU menjelaskan guru yang terampil berkomunikasi merupakan keniscayaan di era teknologi digital. Mereka itu kemudian menjadi guru yang inspiratif dan imajinatif bagi peserta didik.

Menurut Assoc. Prof. Rudianto, guru tidak bisa lagi biasa-biasa saja memberikan pembelajaran melainkan harus inovatif untuk menjawab permasalahan kesenjangan antara guru dan generasi digital yang menjadi peserta didik.

Kecenderungan siswa saat ini menyukai teks-teks ringkas dan konten yang disajikan dalam bentuk gambar dan video. Teknologi telah mengubah siswa pada zamannya kini, termasuk cara berkomunikasi dan belajar yang tidak terbiasa dilihat oleh orangtua pada zaman dulu. Untuk itu, menurut Assoc. Prof. Rudianto, guru harus adaptif dan inovatif menyajikan konten, pesan dan media pembelajaran kepada siswa.

Assoc. Prof. Rudianto mengatakan, teknologi yang berkembang dan diadopsi generasi digital tidak mungkin bisa dihambat, kecuali guru, sekolah dan para orangtua peduli dan kompak memberikan keteladanan dan nilai-nilai agama pada anak didik sebagai bentengnya agar tidak kebablasan menggunakan teknologi.

Pada sesi tanya jawab, pembicara mengatakan teknologi jangan dipertentangkan antar zamannya, justru guru penting untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman dan komunikasi adalah pintu utama masuk ke dalam sebuah peradaban yang maju. Untuk itu, kalau guru terampil berkomunikasi dan mampu memberikan keteladanan, maka kita akan berpendidikan, berbudaya, berbangsa dan akhirnya berperadaban.

Upaya itu sekaligus akan mencegah siswa tidak menjadi generasi strowbery yang cantik di luar tetapi lembek di dalam. Pada akhir kuliah umum, pembica dan peserta sependapat bahwa kita tidak bisa bertumpu hanya kepada sains dan teknologi yang terus dimodifikasi untuk memenuhi kebutuhan manusia, tetapi guru perlu memberikan literasi dan nilai-nilai agama kepada siswa.

Baca Juga  Keuntungan Tugu Insurance melonjak 281%, pendapatan premi mencapai Rp 7,7 triliun

Para kepala sekolah dan guru mengharapkan kuliah umum tentang komunikasi dan pendidikan agar diteruskan di Takengon karena sangat bermanfaat untuk menyegarkan kemampuan komunikasi guru di dalam kelas

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *