Dolar Tembus Rp 16.200, Ini Status Utang Pemerintah Rp 8.319

Uncategorized51 Dilihat


Jakarta, CNBC Indonesia – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih terus berlangsung, meski suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) meningkat menjadi 6,25%. Hal ini akan berdampak pada peningkatan beban bunga utang.

“Kami memahami pergerakan pasar, baik pelemahan rupee maupun kenaikan imbal hasil, akan berdampak pada biaya bunga,” kata Chief Financial Officer dan Risk Management Suminto kepada media, Kamis (25 April 2024).

Suminto menilai meski dolar sudah mencapai Rp 16.200, namun secara rata-rata sepanjang tahun ini rupiah masih terkendali. Berdasarkan asumsi utama makroekonomi APBN tahun 2024, nilai tukar rupiah diperkirakan rata-rata berada pada kisaran Rp15.000.

“Tentunya kami berharap pergerakan pasar yang terutama didorong oleh faktor global, baik tensi geopolitik maupun arah kebijakan moneter di negara-negara maju, khususnya Amerika Serikat, bersifat sementara dan tidak berlanjut,” jelasnya.

Suminto menambahkan, utang pemerintah mencapai Rp8,319 triliun hingga akhir Februari. Sebanyak 88,2% merupakan Surat Berharga Negara (SBN) yang diperoleh dari pasar domestik dan global, sedangkan sisanya merupakan pinjaman.

Denominasi rupee menyumbang mayoritas utang pemerintah yakni 71,92%. Sementara porsi mata uang asing sebesar 28,08%. Menurut Suminto, risiko pelemahan rupee bisa dikendalikan.

Begitu pula dengan risiko refinancing atau cara melunasi pinjaman dengan mengajukan pinjaman baru. Hingga Februari 2024, rata-rata jangka waktu utang pemerintah atau rata-rata waktu jatuh tempo (ATM) adalah 7,97 tahun.

Terkait risiko suku bunga, Suminto mengatakan, di luar beban sharing dengan Bank Indonesia (BI), utang pemerintah yang menggunakan suku bunga mengambang hanya menyumbang 9,7% dari total utang yang beredar.

“Kami mengantisipasi dan memitigasi risiko yang terkait dengan pergerakan pasar, termasuk dalam rangka pembayaran kewajiban utang, baik pokok maupun bunga, kami berada pada posisi yang baik untuk memenuhi seluruh kewajiban utang kami,” tegas Suminto.

Baca Juga  BNI (BBNI) Luncurkan Superapp Wonder, Ini Keunggulannya

Untuk keluarnya utang pada tahun 2024, Kementerian Keuangan menerapkan strategi yang fleksibel dan oportunistik untuk memperoleh pembiayaan utang yang optimal dan efisien. Hal ini berlaku untuk waktu penerbitan, jangka waktu, nilai tukar dan instrumen.

[Gambas:Video CNBC]

Artikel selanjutnya

RI kembali mengalami defisit, rupiah melemah hingga Rp 15.640 per dolar AS

(pengusir hama/pengusir hama)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *