Diungkapkan! Itulah sederet raja dan dinasti debt collector di Indonesia.

Uncategorized236 Dilihat


Jakarta, CNBC Indonesia – Debt collector (DC) seringkali adalah orang yang menagih hutang. Ternyata dibalik perbuatannya ada pengusaha yang menekuni bisnis tersebut.

Penagih utang atau debt collector sering dikaitkan dengan orang-orang berkuasa yang mengendalikan bisnis. Ada nama asal Indonesia Timur yang masih populer. Ini termasuk John Kay, Hercules dan Basri Sangaji.

John Kay tiba di Jakarta pada tahun 1992. Jakarta menjadi tempat pelarian John Kay yang diancam dipenjara oleh Polsek Maluku dan Surabaya. Sedangkan Basri Sangaji berangkat ke Jakarta hanya untuk mengadu nasib. Hercules kemudian tiba di ibu kota, dibawa oleh tentara karena merupakan personel bantuan Operasi Kopass (TBO) di Timor Timur.

Ketiganya punya kesamaan: tak punya skill bertahan hidup di Jakarta selain keberanian. Sehingga, mereka akhirnya memutuskan untuk menjadi gelandangan dan preman.

Hercules, misalnya, pada masa Orde Baru dikenal sebagai preman yang terkenal kejam. Ke mana pun pergi, parang atau senjata tajam selalu dibawa. Menurut Ian Douglas Wilson dalam The Politics of Preman Rations (2018), jasa mereka awalnya dimanfaatkan oleh kelompok masyarakat untuk menjaga “ketertiban” di kawasan.

Awalnya mereka sendirian, namun lambat laun membentuk kelompok sendiri-sendiri. Kelompok tersebut terdiri dari masyarakat kampung halaman yang merantau ke Jakarta.

Orang yang berasal dari Ambon ini tergabung dalam kelompok John Kay dan Basri Sangaji. Kei sendiri berasal dari pulau Kei, dan Basri berasal dari pulau Haruku. Lalu kalau dari Timor, maka mereka di bawah Hercules.

Bagi pendatang baru, ketiganya merupakan sosok karismatik yang bisa diandalkan. Oleh karena itu, para pendatang kerap menempuh jalan serupa, yakni menjadi preman. Kelompok yang dipimpinnya banyak membuat keributan di Jakarta pada tahun 1990-an dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Baca Juga  Terkait perjudian online, OJK telah memblokir 4.921 rekening bank

Mereka bekerja layaknya mafia yang identik dengan dunia gelap. Lambat laun, mereka tidak lagi menjadi bandit untuk menjaga ketertiban, namun sejak tahun 1990 mereka terlibat dalam kegiatan penagihan utang dan perantaraan tanah.

Pertumbuhan sektor keuangan dan perbankan swasta menyebabkan anggota kelompok yang dipimpin oleh John Kay dan lainnya menjadi penagih utang, kata Weiss.

Hal ini menjadi semakin umum ketika krisis ekonomi terjadi, menyebabkan banyak bank bangkrut dan meninggalkan sejarah kredit yang buruk. Suatu kehormatan buruk jika para bandit kemudian mengejar klien.

Apalagi jasa mereka juga digunakan untuk pemeliharaan lahan di Jakarta. Saat itu kondisi Jakarta masih ricuh. Banyak kasus kepemilikan tanah ganda di Jakarta. Alhasil, banyak warga yang memanfaatkan jasa orang Timur untuk merawat tanahnya.

Meluasnya penggunaan grupnya oleh perusahaan-perusahaan besar membuat nama ketiganya semakin sukses dan terkenal. Sejak saat itu, mereka dikenal sebagai “rajanya” debt collector RI.

Bahkan, ukuran tiga nama bisa membuat gurita bisnis. Memang usaha penagihan utang tidak selalu bersifat formal, namun berkat ajaran ketiga raja tersebut, banyak anak buahnya yang membuka usaha tersebut.

Ketiganya kerap berebut wilayah.
Geng Hercules pernah terlibat perkelahian dan bentrokan dengan pemerintah, termasuk kelompok geng Basri Sangaji pada tahun 2002. Hercules bahkan menjadi tersangka pembunuhan Basri. Begitu pula dengan John Kay yang juga didakwa melakukan pembunuhan.

Meski para bosnya sudah tiada dan dipenjara, perselisihan antara kelompok mereka dengan kelompok etnis lain tetap mendalam. Begitu pula dengan profesi penagih utang yang semakin diidentikkan dengan kelompok yang berasal dari Indonesia Timur. Kehebatan nama mereka di bisnis koleksi memang tak tergantikan hingga saat ini.

John Kay kini kembali mendekam di balik jeruji besi untuk kesekian kalinya atas kasus penyerangan terhadap saudaranya di Tangerang. Sementara itu, Hercules dikabarkan bertobat dan hidup sebagai pengusaha biasa.

Baca Juga  Korban Vanaartha akan menerima pembayaran pada Februari 2024, berikut syaratnya

[Gambas:Video CNBC]

Artikel selanjutnya

Inilah aturan baru debt collector Pinjola yang perlu diketahui nasabah

(fsd/fsd)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *