Bank-bank AS dan Eropa hengkang dari RI, bank-bank di Asia semakin agresif

Uncategorized240 Dilihat


Jakarta, CNBC Indonesia – Pengumuman Citibank NA Indonesia (Citi Indonesia) menutup bisnis ritelnya di Indonesia terbilang mengejutkan. Pengalihan aset dan liabilitas perbankan konsumer Citibank kepada UOB Indonesia akan berlaku efektif pada 18 November 2023.

Setelah penjualan ini, Citi Indonesia akan fokus pada bisnis perbankan korporasinya di masa depan dan terus menyalurkan pinjaman konsumen secara tidak langsung.

Namun, Citigroup bukan satu-satunya yang menutup bisnis konsumennya di Indonesia. Bank asing yang berbasis di Inggris Standard Chartered Bank Indonesia (SCBI) juga menjual pinjaman ritelnya ke bank milik Grup MUFG, PT Bank Danamon Indonesia Tbk. (BDMN). Kegiatan ini rencananya akan selesai pada triwulan IV tahun 2023.

Beberapa tahun lalu, PT BankANZ Indonesia resmi mengalihkan bisnis ritelnya ke PT Bank DBS Indonesia dari Singapura. Lini bisnis yang diluncurkan mencakup pinjaman ritel dan layanan manajemen kekayaan untuk klien dengan kekayaan bersih tinggi. Tidak hanya di Indonesia, ANZ menjual lini bisnisnya di Singapura, Hong Kong, China, dan Taiwan.

Langkah lebih radikal dilakukan Commonwealth Bank Australia (CBA) yang mengalihkan PT Bank Commonwealth ke PT OCBC NISP Tbk (NISP) pada tahun ini. Commonwealth mengatakan penjualan saham tersebut sejalan dengan strategi grup untuk menjadi lebih efisien dan lebih baik dengan berfokus pada bisnis domestiknya di Australia dan Selandia Baru.

Sebelumnya, PT Rabobank Internasional Indonesia juga melakukan aksi korporasi serupa. Grup Rabobank asal Belanda memutuskan untuk menjual asetnya di Indonesia kepada PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA).

Strategi ini juga diikuti oleh Royal Bank of Scotland NV (RBS). Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencabut izin pengoperasian cabang bank asing Skotlandia pada tahun 2018. Hal ini dilakukan menyusul permintaan kantor pusat RBS di Belanda yang diajukan ke OJK pada 1 November 2016.

Baca Juga  CT menjelaskan permasalahan perekonomian tahun ini: ada 4 permasalahan

Sementara itu, sejumlah bank dari kawasan Asia mulai memasuki industri keuangan Tanah Air. Misalnya, MUFG mengakuisisi PT Bank Danamon Tbk pada tahun 2018. Kemudian pada tahun 2019, Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC) resmi menguasai 96,9 persen saham PT Bank BTPN Tbk.

Setahun kemudian, bank asal Korea Selatan Kookmin mendapat izin dari OJK untuk menjadi pemegang saham pengendali PT Bank KB Bukopin Tbk. (BBKP). Pada tahun 2020 juga, Bangkok Bank Public Company Limited resmi menyelesaikan akuisisi 89,12% saham PT Bank Permata Tbk. (BNLI).

Dalam rangkaian aksi korporasi tersebut, terdapat benang merah: sejumlah bank asing asal Amerika dan Eropa cenderung mengurangi asetnya di Indonesia, sementara perusahaan keuangan di kawasan Asia gencar melakukan ekspansi ke Indonesia.

CEO Citi Indonesia Batara Sianturi menjelaskan terdapat pembagian pasar perbankan di Indonesia. Secara umum, ada dua segmen besar yang dilayani perbankan Tanah Air, yaitu ritel dan korporasi.

Bisnis ritel sepenuhnya dimiliki oleh bank lokal, sedangkan bank global memiliki posisi yang lebih baik untuk mengisi ceruk pasar korporasi. Bank-bank di wilayah yang sama berada di tengah atau mungkin melayani bisnis ritel dan korporasi. Alasannya, bank daerah mengalokasikan modal khusus untuk menjadi bank layanan penuh.

Di Citi Indonesia, dari sisi pendapatan, bisnis ritel dan korporasi memberikan kontribusi yang sama besarnya. “Tetapi dari segi keuntungan, perbankan institusional lebih menguntungkan karena konsumen, pengeluaran lebih lanjut,” kata Batara yang juga Ketua Umum Perhimpunan Bank Asing Indonesia (Perbina) dalam Power Lunch, CNBC Indonesia, Rabu (29/11/2023).

Lebih lanjut Batara menjelaskan, sejumlah bank daerah yang gencar masuk ke Indonesia memiliki pasar yang dinilai sudah jenuh di negara asalnya.

Baca Juga  Sebut Tas dari Marsha Aruan KW, Fuji Dinilai Tak Sopan - Banjir Kritikan

Sementara itu, penyaluran kredit cabang bank asing di Indonesia turun 4,7% year-on-year (y-o-y) per September 2023 menjadi Rp 75,94 triliun, menurut data OJK. Pada periode yang sama, laba cabang bank asing meningkat dua kali lipat atau 111,6% menjadi Rp 8,47 triliun.

[Gambas:Video CNBC]

Artikel selanjutnya

Citi Ingin PHK Massal Bulan Depan, Citi Indonesia Buka Suara

(mx/mx)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *